{"id":13544,"date":"2026-06-02T11:30:00","date_gmt":"2026-06-02T04:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=13544"},"modified":"2026-06-03T09:35:38","modified_gmt":"2026-06-03T02:35:38","slug":"makna-simbol-arsitektural-pada-masjid-jami-di-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/makna-simbol-arsitektural-pada-masjid-jami-di-jawa\/","title":{"rendered":"Makna Simbol Arsitektural pada Masjid Jami di Jawa"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"13544\" class=\"elementor elementor-13544\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-9a0ffac e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"9a0ffac\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3957a97 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"3957a97\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: center;\">Oleh: Pudji Pratitis Wismantara, S.T., M.T.<\/p><p>Arsitektur selalu menyimpan makna di balik simbol yang ditampilkannya. Simbol merupakan pemadatan pemikiran manusia dan masyarakat tentang semesta, Tuhan, dan cara hidupnya. Melalui simbol, manusia mengenal, memahami, dan menempatkan diri dalam ruang hunian yang ia tinggali.<\/p><p>Dalam konteks arsitektur masjid, sistem simbol memiliki peran sentral sebagai media dakwah dan syi\u2019ar Islam. Bentuk, ruang, dan ornamen bukan sekadar elemen fisik, tetapi juga pembawa pesan nilai keislaman yang kontekstual dengan budaya setempat. Masjid Jami di Jawa yang berdiri sekarang merupakan pelanjut dari konsep arsitektur yang lebih tua. Menelusuri simbolismenya berarti menelusuri perkembangan pemahaman masyarakat muslim pesantren tentang relasi manusia dengan Tuhan dan sesama beserta lingkungan alamnya.<\/p><p>Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana makna simbol arsitektur tersebut dipahami dan dirawat dalam ruang dan waktu yang berubah. Pelestarian tidak cukup berhenti pada bentuk fisik bangunan. Yang lebih penting adalah menyambungkan kembali makna budaya di balik simbol itu agar dapat menjadi pelajaran dan rujukan bagi pengelolaan ruang hidup yang adil dan seimbang di masa kini dan masa depan.<\/p><p>Artikel ini membaca Masjid Jami di Jawa melalui konsep \u201cintegrasi <em>habluminallah<\/em> and <em>habluminannas<\/em>\u201d dan \u201cTingkatan Jiwa Manusia\u201d. Pembacaan ini bertujuan merekonstruksi simbolisme arsitekturnya berdasarkan nilai-nilai sosial-budaya muslim setempat. Dengan memahami alur perkembangan simbol tersebut, pengembangan masjid di masa mendatang dapat diarahkan secara tepat, sehingga pelestarian arsitektur muslim menjadi bagian dari pelestarian identitas budaya Indonesia secara utuh.<\/p><p><strong>Konsep<\/strong><strong> <em>Takamul Habluminallah wal Habluminannas<\/em><\/strong><\/p><p>Pada awal pembangunannya, Masjid Jami di Jawa membagi ruang utama menjadi dua bagian: bilik dan serambi. Bilik berfungsi sebagai ruang shalat utama yang merepresentasikan <em>habluminallah<\/em>, yaitu hubungan vertikal manusia dengan Allah. Sementara serambi berfungsi sebagai ruang kegiatan sosial yang merepresentasikan <em>habluminannas<\/em>, yaitu hubungan horizontal manusia dengan sesama dan alam.<\/p><p>Pembagian ruang ini mencerminkan misi manusia sebagai <em>khalifatullah<\/em> di bumi. Manusia diberi akal dan tugas untuk memakmurkan bumi serta menjadi <em>rahmatan lil \u2018alamin<\/em>. Untuk menjalankan misi tersebut, manusia perlu menjaga keseimbangan dua tanggung jawab utama: keterikatan dengan Sang Pencipta melalui <em>shalat<\/em>, dan kelekatan dengan lingkungan melalui amal kebajikan.<\/p><p>Semakin kuat koneksi seseorang dengan <em>Rabb-nya<\/em>, semakin ia mampu menghayati nilai-nilai Ketuhanan. Penghayatan itu kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan sosial, sehingga menghasilkan kebaikan dan kemanfaatan bagi seluruh makhluk.<\/p><p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-13546 size-full\" src=\"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ilustrasi-Picture1.png\" alt=\"\" width=\"463\" height=\"261\" srcset=\"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ilustrasi-Picture1.png 463w, https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ilustrasi-Picture1-300x169.png 300w, https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ilustrasi-Picture1-18x10.png 18w\" sizes=\"(max-width: 463px) 100vw, 463px\" \/><\/p><p style=\"text-align: center;\">Gambar 1: Ilustrasi Konsep Habluminallah-Habluminannas pada arsitektur masjid jami di Jawa.<\/p><p style=\"text-align: center;\">Sumber: hasil analisis (2026)<\/p><p>Dengan demikian, bilik dan serambi membentuk satu kesatuan ruang yang utuh. Kesatuan ini menyimbolkan bahwa penghayatan nilai-nilai Keilahian harus ditindaklanjuti dengan amal kebajikan. Tujuannya adalah mencapai kemaslahatan (baik dan manfaat) dan keselamatan bersama bagi manusia dan alam.<\/p><p><strong>Konsep Tingkatan Jiwa Manusia<\/strong><\/p><p>Empat <em>sakaguru<\/em> (tiang utama) yang menopang atap <em>tajug<\/em> merupakan wujud simbolik dari perpaduan konsep setempat dan Islam. Struktur ini merepresentasikan konsep Jawa <em>sedulur papat kalima pancer<\/em> dan konsep tasawuf tentang <em>tujuh tingkatan nafsu<\/em>. Empat sakaguru melambangkan empat nafsu dasar, sedangkan atap tajug susun tiga melambangkan tiga nafsu kemuliaan dengan perjenjangan <em>level<\/em>.<\/p><p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-13547 size-full\" src=\"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Picture2.png\" alt=\"\" width=\"463\" height=\"261\" srcset=\"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Picture2.png 463w, https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Picture2-300x169.png 300w, https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Picture2-18x10.png 18w\" sizes=\"(max-width: 463px) 100vw, 463px\" \/><\/p><p style=\"text-align: center;\">Gambar 2: Ilustrasi Konsep Tingkatan Jiwa Manusia pada arsitektur masjid awal di Jawa.<\/p><p style=\"text-align: center;\">Sumber: hasil analisis (2026)<\/p><p>Konsep <em>sedulur papat kalima pancer<\/em> berarti \u201cempat saudara dan kelima adalah pusatnya\u201d. Manusia sejak lahir didampingi empat unsur kekuatan spiritual yang disebut sedulur papat, dan dipusatkan pada kesadaran diri atau pancer. Keempat unsur itu adalah <em>Amarah<\/em> yang bersumber dari unsur api, <em>Lawwamah<\/em> dari unsur tanah, <em>Supiyah<\/em> dari unsur angin, dan <em>Mutmainnah<\/em> dari unsur air. Falsafah ini mengajarkan bahwa manusia harus mengendalikan dan menyelaraskan keempat nafsu dasar tersebut agar berada di bawah kendali akal dan kesadaran diri.<\/p><p>Dalam tasawuf, tujuh tingkatan nafsu merupakan tangga spiritual menuju kesucian hati dan kedekatan dengan Allah SWT. Tingkatan itu dimulai dari Nafsu <em>Amarah<\/em> yang cenderung pada keburukan, Nafsu <em>Lawwamah<\/em> yang mulai sadar tetapi masih sering jatuh dalam dosa, hingga <em>Nafsu Mulhamah<\/em> and <em>Muthmainnah <\/em>yang mulai tenang dan menerima ilham kebaikan. Puncaknya adalah Nafsu <em>Radhiah<\/em>, <em>Mardhiah<\/em>, dan <em>Kamilah<\/em>, yaitu jiwa yang ridha, diridhai Allah, dan telah sempurna dengan sifat-sifat ketuhanan.<\/p><p>Makna yang dihadirkan adalah bahwa manusia harus menggunakan kemampuan intelektual dan spiritualnya untuk memperbaiki diri. Proses itu dilakukan dengan mengatasi nafsu, ego, dan kemelekatan duniawi, serta terus meruhanikan diri. Tujuan akhirnya adalah mencapai Kesadaran Sejati dan menjadi <em>Insan Kamil<\/em>.<\/p><p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p><p>Arsitektur Masjid Jami di Jawa menunjukkan bahwa simbol bukan sekadar bentuk fisik, melainkan pembawa makna yang ada di balik tampilan fisiknya. Dengan demikian, pelestarian dan pembaharuan Masjid Jami tidak cukup dilakukan pada aspek fisiknya saja. Pemahaman terhadap makna simbolik di balik bentuk dan ruangnya penting agar pengembangan masjid di masa depan tetap selaras dengan nilai keislaman dan budaya setempat. Melalui pembacaan ini, arsitektur masjid dapat berfungsi sebagai rujukan pengelolaan ruang hidup yang seimbang dan adil, sekaligus memperkuat identitas budaya muslim Indonesia yang Islami.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Pudji Pratitis Wismantara, S.T., M.T. Arsitektur selalu menyimpan makna di balik simbol yang ditampilkannya. Simbol merupakan pemadatan pemikiran manusia dan masyarakat tentang semesta, Tuhan, dan cara hidupnya. Melalui simbol, manusia mengenal, memahami, dan menempatkan diri dalam ruang hunian yang ia tinggali. Dalam konteks arsitektur masjid, sistem simbol memiliki peran sentral sebagai media dakwah dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-13544","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13544","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13544"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13544\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13553,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13544\/revisions\/13553"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13544"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13544"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13544"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}