{"id":13370,"date":"2026-05-18T09:35:30","date_gmt":"2026-05-18T02:35:30","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=13370"},"modified":"2026-05-18T09:37:43","modified_gmt":"2026-05-18T02:37:43","slug":"renungan-jumat-14","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/renungan-jumat-14\/","title":{"rendered":"Renungan Jum&#8217;at"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"13370\" class=\"elementor elementor-13370\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-12aaa0e e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"12aaa0e\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-0a2955f elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"0a2955f\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: center;\"><em>Oleh: Agus Mulyono<\/em><\/p><p>Duduk atau Jongkok ??<\/p><p>Ada satu pola yang sering berulang dalam hidup kita\u2026 sesuatu yang dulu sederhana, alami, dan selaras\u2026<br \/>perlahan ditinggalkan, bukan karena salah, tapi karena kita merasa sudah menemukan yang \u201clebih maju\u201d.<\/p><p>Kita mulai dari hal yang sangat dekat\u2026 bahkan terlalu dekat sampai sering tidak kita pikirkan:<br \/>cara kita buang air.<br \/>Sudah sejak lama, masyarakat kita menggunakan toilet jongkok.<br \/>Para pendahulu mencontohkan, bahwa buang air.. baik kecil maupun besar, dilakukan dengan berjongkok.<\/p><p>Bukan sekadar kebiasaan, tapi juga bagian dari sunnah.<br \/>Menurut pak kyai, sunnah itu kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.<br \/>Tidak selalu tampak \u201cilmiah\u201d di awal, tapi ketika direnungkan\u2026 justru penuh hikmah.<\/p><p>Tubuh manusia ini tidak diciptakan sembarangan.<br \/>Setiap posisi, setiap gerak, ada kesesuaiannya.<br \/>Ketika seseorang berjongkok saat buang air besar, posisi usus menjadi lebih lurus.<br \/>Rongga perut sedikit tertekan, tekanan intra-abdomen meningkat secara alami,<br \/>sehingga proses pengeluaran feses menjadi lebih mudah, lebih tuntas.<\/p><p>Tidak perlu dipaksa.<br \/>Tidak perlu mengejan berlebihan.<br \/>Seolah tubuh kita sudah \u201ctahu caranya\u201d.<\/p><p>Tapi hari ini\u2026 pelan-pelan kita berubah.<br \/>Toilet duduk hadir, dan kita menyambutnya sebagai simbol kenyamanan dan modernitas.<br \/>Di rumah-rumah, hotel, perkantoran, sekolah\u2026<br \/>bahkan di masjid, madrasah dan kampus-kampus Islam.<\/p><p>Menurut pak kyai, sering kali kita ini tidak benar-benar memilih yang lebih baik\u2026<br \/>kita hanya memilih yang terlihat lebih \u201cbaru\u201d.<\/p><p>Pada toilet duduk, tubuh tidak berada pada posisi optimal.<br \/>Usus tidak sepenuhnya lurus.<br \/>Akibatnya, banyak orang harus mengejan untuk membantu proses buang air.<\/p><p>Dan dari kebiasaan mengejan itu\u2026 mengejan berulang dalam jangka panjang bisa memicu beberapa masalah: Pembengkakan pembuluh darah di anus akibat tekanan tinggi.. sering disebut wasir, sembelit..<br \/>arena pengosongan tidak sempurna, juga risiko gangguan pada dasar panggul<br \/>(terutama jika sering mengejan keras)<\/p><p>Sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari, kalau kita kembali pada cara yang lebih alami.<br \/>\u2026<br \/>Pola yang sama\u2026 ternyata tidak hanya terjadi di kamar mandi.<br \/>Kita geser sedikit\u2026 ke sawah.<br \/>Sudah sejak lama, para petani terdahulu menggunakan pupuk yang disediakan oleh alam.<br \/>Jerami sisa panen, kotoran ternak, dibiarkan menyatu\u2026 difermentasi oleh waktu.<br \/>Sederhana, Tidak instan, Tapi menjaga keseimbangan, Tanah tetap hidup.<br \/>Mikroorganisme bekerja. Kesuburan terjaga, bahkan berkelanjutan.<\/p><p>Menurut pak kyai, alam itu punya sunnahnya sendiri.<br \/>Kalau kita mengikuti ritmenya\u2026 kita dijaga.<br \/>Kalau kita melawannya\u2026 kita yang akan merasakan akibatnya.<br \/>Sekarang\u2026 mayoritas petani beralih ke pupuk kimia.<\/p><p>Lebih praktis, hasilnya cepat terlihat, panen bisa meningkat dalam waktu singkat.<br \/>Tapi diam-diam\u2026 ada yang hilang.<br \/>Pupuk kimia tidak hanya memberi nutrisi, tapi juga perlahan membunuh bakteri-bakteri baik dalam tanah.<\/p><p>Tanah yang dulu gembur\u2026 menjadi keras. Yang dulu hidup\u2026 menjadi tergantung. Akhirnya, tanah tidak lagi \u201cmandiri\u201d.<br \/>Ia butuh terus-menerus disuplai dari luar.<br \/>Dan tanpa kita sadari\u2026<br \/>kita sedang menciptakan ketergantungan.<br \/>\u2026<br \/>Kita geser lagi\u2026 masih di sawah yang sama.<br \/>Dulu, petani membajak sawah menggunakan kerbau atau sapi.<br \/>Terlihat lambat, memang. Tapi ramah lingkungan.<br \/>Bisa menjangkau lahan sempit, lereng-lereng, tanah miring.<br \/>Hewan ternak tetap bergerak, tetap sehat.<br \/>Kotorannya bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk.<br \/>Ada siklus yang utuh. Tidak ada yang terbuang.<\/p><p>Sekarang\u2026 traktor mengambil alih.<br \/>Cepat, Efisien, Terlihat canggih.<br \/>Tapi tidak selalu cocok untuk semua lahan.<br \/>Tidak menjangkau tempat-tempat yang dulu bisa dijangkau hewan.<br \/>Membutuhkan bahan bakar. Mengeluarkan polusi.<br \/>Dan perlahan\u2026 memutus siklus alami yang dulu terjaga.<\/p><p>Menurut pak kyai, teknologi itu tidak salah.<br \/>Tapi kalau membuat kita jauh dari keseimbangan\u2026<br \/>maka kita perlu berhenti sejenak, dan bertanya.<br \/>\u201cIni benar-benar memudahkan\u2026 atau hanya mempercepat?\u201d<br \/>Karena tidak semua yang cepat itu baik.<br \/>Dan tidak semua yang lama itu tertinggal.<br \/>\u2026<br \/>Dari kamar mandi\u2026 ke sawah\u2026 ke cara kita mengolah tanah\u2026<br \/>ternyata pesannya sama.<br \/>Kita sering meninggalkan yang alami,<br \/>demi sesuatu yang terlihat lebih praktis.<\/p><p>Padahal yang alami itu bukan sekadar tradisi\u2026<br \/>tapi sering kali adalah bentuk keselarasan.<br \/>Menurut pak kyai, hidup ini bukan tentang menolak modernitas.<br \/>Bukan juga tentang kembali sepenuhnya ke masa lalu.<br \/>Tapi tentang kebijaksanaan dalam memilih.<br \/>Mana yang memang membawa kebaikan\u2026<br \/>dan mana yang hanya terlihat baik di permukaan.<\/p><p>Karena bisa jadi\u2026<br \/>yang kita anggap kemajuan, justru pelan-pelan menjauhkan kita dari keseimbangan.<br \/>Dan yang kita anggap sederhana\u2026<br \/>justru menyimpan kebenaran yang lebih dalam.<br \/>Maka mungkin\u2026 kita tidak perlu selalu bertanya,<br \/>\u201cini modern atau tidak?\u201d<\/p><p>Tapi cukup bertanya:<br \/>\u201cini selaras atau tidak?\u201d<br \/>Dengan tubuh kita\u2026<br \/>dengan alam\u2026<br \/>dan dengan nilai-nilai yang diajarkan.<\/p><p>Dan pada akhirnya, hidup bukan soal menjadi yang paling maju\u2026<br \/>tapi tentang tetap berada di jalan yang paling tepat.<\/p><p>Wallahu a\u2019lam<br \/>\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agus Mulyono Duduk atau Jongkok ?? Ada satu pola yang sering berulang dalam hidup kita\u2026 sesuatu yang dulu sederhana, alami, dan selaras\u2026perlahan ditinggalkan, bukan karena salah, tapi karena kita merasa sudah menemukan yang \u201clebih maju\u201d. Kita mulai dari hal yang sangat dekat\u2026 bahkan terlalu dekat sampai sering tidak kita pikirkan:cara kita buang air.Sudah sejak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-13370","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13370","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13370"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13370\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13378,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13370\/revisions\/13378"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}