{"id":12908,"date":"2026-04-22T10:24:03","date_gmt":"2026-04-22T03:24:03","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=12908"},"modified":"2026-04-22T11:17:21","modified_gmt":"2026-04-22T04:17:21","slug":"renungan-hari-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/renungan-hari-bumi\/","title":{"rendered":"Renungan \u2013 Hari Bumi"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"12908\" class=\"elementor elementor-12908\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7d08bc96 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"7d08bc96\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7235e030 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"7235e030\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Oleh: Agus Mulyono<\/em><\/p>\n\n<p>Memaknai Hari Bumi<\/p>\n\n<p>Dulu\u2026 di kampung\u2026 kita mengenal bumi bukan sebagai objek\u2026 tapi sebagai ibu\u2026 yang dipijak dengan hati-hati\u2026 yang disentuh dengan rasa\u2026<br \/>yang dipahami bukan lewat rumus\u2026 tapi lewat adab.<\/p>\n\n<p>Pagi hari\u2026 orang tua kita menyapu halaman bukan sekadar membersihkan\u2026 tapi seperti sedang merawat hubungan\u2026<br \/>antara manusia, tanah, dan kehidupan.<\/p>\n\n<p>Tapi hari ini\u2026 kita seperti kehilangan rasa itu.<br \/>Banyak fenomena alam yang menandakan bahwa bumi telah menurun kualitasnya.<\/p>\n\n<p>Kita melihat tanah pertanian yang dulu subur.. kini mulai lelah.<br \/>Hutan yang dulu rindang\u2026 kini tinggal cerita.<br \/>Air yang dulu jernih\u2026 kini harus dibeli dengan harga yang tidak murah.<br \/>Udara yang dulu menyehatkan\u2026 kini seringkali kita hirup dengan rasa khawatir.<br \/>Dan yang paling menyedihkan\u2026<br \/>kita seperti menganggap ini semua hal yang biasa.<\/p>\n\n<p>Padahal\u2026 ini bukan sekadar perubahan\u2026 ini adalah tanda.<br \/>Tanda bahwa ada yang tidak lagi selaras.<br \/>Kenapa ini terjadi\u2026?<br \/>Jawabannya sebenarnya sederhana\u2026 meskipun kita sering menghindarinya.<\/p>\n\n<p>Manusia telah membabati hutan, menggunduli pepohonan,<br \/>mengeruk bumi tanpa jeda,<br \/>menggunakan pupuk kimia tanpa kendali, mendirikan bangunan di tanah yang seharusnya menjadi resapan, membuang limbah, menyebarkan asap,<br \/>dan memperlakukan alam seolah-olah tidak punya batas kesabaran.<\/p>\n\n<p>Menurut pak kyai,<br \/>kerusakan itu bukan datang tiba-tiba, ia adalah akumulasi dari kesombongan manusia\u2026<br \/>yang merasa bisa menguasai alam\u2026 tanpa harus tunduk pada aturan-Nya.<\/p>\n\n<p>Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur\u2019an:<br \/>\u201cTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia\u2026\u201d<br \/>(QS. Ar-Ruum: 41)<br \/>Ayat ini bukan sekadar peringatan\u2026 tapi seperti cermin\u2026<br \/>yang menunjukkan wajah kita sendiri. Dan seringkali\u2026 kita tidak berani melihatnya terlalu lama.<br \/>Kita terlalu sering berjalan berlawanan arah dengan hukum alam.<\/p>\n\n<p>Ilmu yang kita banggakan\u2026 kadang justru menjauhkan kita dari kebijaksanaan. Teknologi yang kita kembangkan\u2026 tidak selalu membawa keberkahan.<br \/>Kita menyebutnya modern\u2026<br \/>kita menyebutnya canggih\u2026<br \/>kita menyebutnya efisien\u2026<br \/>tapi diam-diam\u2026<br \/>kita sedang menciptakan kerusakan yang lebih sistematis.<\/p>\n\n<p>Menurut pak kyai,<br \/>ilmu itu seharusnya mendekatkan manusia pada keseimbangan\u2026<br \/>bukan justru mempercepat kehancuran. Karena ilmu tanpa adab\u2026 akan melahirkan keserakahan yang terorganisir.<\/p>\n\n<p>Hari Bumi,<br \/>seharusnya bukan sekadar seremoni, bukan sekadar peringatan tahunan, bukan hanya menanam satu dua pohon\u2026 lalu selesai.<\/p>\n\n<p>Hari Bumi adalah momentum untuk kembali bertanya,<br \/>apakah cara hidup kita masih selaras dengan bumi,atau justru menjadi bagian dari kerusakan itu sendiri?<\/p>\n\n<p>Allah juga berfirman:<br \/>\u201cDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri\u2026\u201d<br \/>(QS. Asy-Syura: 30)<\/p>\n\n<p>Ayat ini tidak sedang menyalahkan\u2026 tapi sedang mengajak kita untuk jujur. Bahwa mungkin\u2026 yang perlu diperbaiki bukan hanya sistem di luar sana\u2026<br \/>tapi juga cara kita memandang kehidupan.<\/p>\n\n<p>Menurut pak kyai\u2026<br \/>taubat itu bukan hanya soal ibadah pribadi\u2026 tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan alam. Karena merusak bumi\u2026<br \/>pada hakikatnya adalah bentuk kelalaian terhadap amanah.<br \/>Allah telah menciptakan manusia dari tanah\u2026 dan menjadikannya sebagai pemakmur bumi.<br \/>(QS. Huud: 61)<\/p>\n\n<p>Ini bukan sekadar status\u2026<br \/>ini adalah tanggung jawab.<br \/>Ada dua peran utama kita pertama\u2026 memakmurkan bumi.<br \/>kedua\u2026 menjaga bumi dari kerusakan.<\/p>\n\n<p>Memakmurkan\u2026 bukan berarti mengeksploitasi tanpa batas.<br \/>Menjaga\u2026 bukan berarti hanya diam tanpa tindakan. Keseimbangan di antara keduanya\u2026 itulah yang sering kita lupakan.<\/p>\n\n<p>Dulu\u2026 kita mengambil secukupnya\u2026<br \/>hari ini\u2026 kita mengambil sebanyak-banyaknya.<\/p>\n\n<p>Dulu\u2026 kita berpikir untuk generasi berikutnya\u2026<br \/>hari ini\u2026 kita lebih sibuk menghabiskan untuk diri sendiri.<\/p>\n\n<p>Padahal bumi ini bukan warisan dari nenek moyang\u2026<br \/>tapi titipan untuk anak cucu.<\/p>\n\n<p>Menurut pak kyai\u2026<br \/>orang yang bijak bukan yang paling banyak mengambil\u2026<br \/>tapi yang paling mampu menjaga.<br \/>Kita tetap boleh memanfaatkan kekayaan bumi\u2026<br \/>kita boleh membangun\u2026 mengembangkan\u2026 menciptakan\u2026<br \/>tapi dengan satu syarat\u2026<br \/>jangan sampai merusak keseimbangan.<\/p>\n\n<p>Karena ketika keseimbangan itu hilang\u2026 yang rusak bukan hanya alam\u2026 tapi juga kehidupan manusia itu sendiri.<\/p>\n\n<p>Hari Bumi seharusnya menjadi momen untuk kembali menyadari\u2026<br \/>bahwa kita ini bukan penguasa\u2026<br \/>kita hanya penjaga.<br \/>Penjaga yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.<br \/>Dan mungkin\u2026 pertanyaan itu sederhana\u2026 tapi berat:<br \/>apa yang sudah kita lakukan untuk bumi ini?<\/p>\n\n<p>Bukan seberapa banyak yang kita ambil\u2026 tapi seberapa banyak yang kita jaga.<\/p>\n\n<p>Karena\u2026 bumi tidak butuh kita untuk bertahan\u2026<br \/>kitalah yang butuh bumi\u2026 untuk tetap hidup.<\/p>\n\n<p>Wallahu a\u2019lam<br \/>\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agus Mulyono Memaknai Hari Bumi Dulu\u2026 di kampung\u2026 kita mengenal bumi bukan sebagai objek\u2026 tapi sebagai ibu\u2026 yang dipijak dengan hati-hati\u2026 yang disentuh dengan rasa\u2026yang dipahami bukan lewat rumus\u2026 tapi lewat adab. Pagi hari\u2026 orang tua kita menyapu halaman bukan sekadar membersihkan\u2026 tapi seperti sedang merawat hubungan\u2026antara manusia, tanah, dan kehidupan. Tapi hari ini\u2026 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-12908","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12908"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12908\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12921,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12908\/revisions\/12921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}