{"id":14785,"date":"2026-09-20T20:47:55","date_gmt":"2026-09-20T13:47:55","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=14785"},"modified":"2026-09-20T20:58:12","modified_gmt":"2026-09-20T13:58:12","slug":"nusa-tenggara-dan-gempa-yang-tak-terlihat-seberapa-besar-ancaman-di-bawah-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/nusa-tenggara-dan-gempa-yang-tak-terlihat-seberapa-besar-ancaman-di-bawah-kita\/","title":{"rendered":"Nusa Tenggara dan Gempa yang Tak Terlihat: Seberapa Besar Ancaman di Bawah Kita?"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"14785\" class=\"elementor elementor-14785\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-11c73c6 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"11c73c6\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2078b01 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"2078b01\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h3><strong>Membaca ancaman gempa NTB\u2013NTT melalui data, <em>Peak Ground Acceleration<\/em>, dan Fungsi Atenuasi Zhao<\/strong><\/h3><p>Gempa bumi di \u00a0Nusa Tenggara Timur mengingatkan kita bahwa aktivitas tektonik bukan sekadar cerita dalam buku. Pada 8 September 2026, BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 di wilayah sekitar 60 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut tergolong dangkal, dengan kedalaman 10 kilometer, dan dirasakan di sejumlah wilayah di NTT.<\/p><p>Peristiwa semacam ini mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, bagi masyarakat yang mengalaminya, beberapa detik tersebut cukup untuk mengingatkan kembali bahwa tanah yang selama ini terasa kokoh ternyata terus bergerak. Di wilayah seperti Nusa Tenggara, gempa merupakan bagian dari dinamika bumi yang berlangsung jauh di bawah permukaan.<\/p><p>Pertanyaannya kemudian bukan sekadar \u201ckapan gempa terjadi?\u201d, tetapi juga \u201cseberapa besar ancaman yang ditimbulkannya?\u201d\u00a0 Pertanyaan inilah yang menjadi fokus pembahasan pada buku hasil penelitian yang berjudul \u201cTingkat Bahaya Gempa Bumi Tektonik Signifikan Merusak Berdasarkan Analisis Fungsi Atenuasi Zhao\u201d karya Irjan, M.Si. dan Ahmad Luthfin, M.Si. dari prodi Fisika yang dilakukan pada tahun 2021. Penelitian tersebut secara khusus mengkaji karakteristik dan tingkat bahaya gempa bumi tektonik di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).<\/p><h2><strong>Ketika Nusa Tenggara Berada di Tengah Aktivitas Tektonik<\/strong><\/h2><p>Nusa Tenggara bukanlah kawasan yang asing dengan gempa. Secara geologis, wilayah ini berada di kawasan yang kompleks dan aktif. Di bagian selatan terdapat zona subduksi, tempat Lempeng Indo-Australia berinteraksi dan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Sementara itu, di bagian utara terdapat struktur Bali-Flores Back Arc Thrust, yang juga menjadi salah satu sumber aktivitas gempa di kawasan tersebut. Dengan kondisi tersebut, sumber gempa di Nusa Tenggara tidak hanya berasal dari satu jalur. Aktivitas tektonik dapat muncul dari beberapa zona dengan karakteristik yang berbeda.<\/p><p>Catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah ini memang memiliki rekam jejak gempa bumi merusak. Penelitian mencatat sejumlah kejadian gempa besar sepanjang periode 1862\u20132004 yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur. Salah satu peristiwa paling dikenang adalah gempa Flores pada 12 Desember 1992. Gempa berkekuatan sekitar 7,8 SR tersebut diikuti tsunami dengan tinggi gelombang maksimum yang dilaporkan mencapai sekitar 26 meter. Peristiwa itu menyebabkan sekitar 2.100 orang meninggal dunia dan sekitar 90.000 orang kehilangan tempat tinggal atau mengungsi.<\/p><p>Sejarah tersebut memberikan satu pesan penting: aktivitas gempa di Nusa Tenggara bukan fenomena sesaat. Gempa yang terjadi hari ini merupakan bagian dari dinamika geologi yang jauh lebih panjang.<\/p><h2><strong>Membaca Gempa dari Data<\/strong><\/h2><p>Ketika berbicara tentang gempa, masyarakat umumnya langsung melihat angka magnitudo.<\/p><p>\u201cGempa M5.\u201d<\/p><p>\u201cGempa M6.\u201d<\/p><p>\u201cGempa M7.\u201d<\/p><p>Angka tersebut memang penting. Namun, magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa berbahaya sebuah gempa. Dua gempa dengan magnitudo yang sama belum tentu menghasilkan guncangan yang sama kuat di permukaan. Kedalaman gempa, jarak dari sumber gempa, kondisi tanah, hingga karakteristik gelombang seismik ikut menentukan seberapa besar guncangan yang dirasakan masyarakat.<\/p><p>Karena itu, penelitian yang dilakukan Irjan dan Ahmad Luthfin tidak berhenti pada pencatatan magnitudo. Penelitian tersebut mencoba melihat bagaimana energi gempa berkurang ketika merambat dari sumbernya menuju permukaan dan wilayah yang lebih jauh. Pendekatan inilah yang kemudian membawa penelitian pada konsep fungsi atenuasi.<\/p><p>Penelitian ini menggunakan data gempa dari katalog BMKG dan USGS. Data yang dianalisis merupakan kejadian gempa pada periode 1997\u20132018, dengan kriteria magnitudo minimal 5 SR, kedalaman hiposenter maksimal 60 kilometer, serta jarak episenter hingga 600 kilometer dari wilayah kajian.<\/p><p>Mengapa harus menggunakan batasan tertentu? Karena penelitian ingin berfokus pada gempa yang relevan untuk kajian bahaya gempa tektonik signifikan, terutama gempa dangkal yang berpotensi memberikan pengaruh lebih besar terhadap kondisi di permukaan. Data tersebut kemudian dianalisis dari beberapa sisi: hubungan magnitudo dan frekuensi kejadian, persebaran episenter, kedalaman hiposenter, hingga perhitungan Peak Ground Acceleration (PGA).<\/p><p>Dengan kata lain, penelitian berusaha mengubah data gempa yang awalnya berupa angka dan koordinat menjadi informasi yang lebih mudah dibaca: seberapa kuat tanah berpotensi mengalami percepatan ketika gempa terjadi?<\/p><p>Hasil pemetaan memperlihatkan bahwa aktivitas gempa di NTB dan NTT memiliki pola persebaran yang menarik. Di NTB, episenter gempa dapat dikelompokkan ke dalam beberapa zona, antara lain zona subduksi bagian selatan, wilayah non-vulkanik dan vulkanik di bagian timur NTB, serta zona Back Arc Thrust di bagian utara.<\/p><p>Pola yang hampir serupa juga ditemukan di NTT. Aktivitas gempa tersebar pada zona subduksi selatan, wilayah vulkanik dan non-vulkanik, serta zona Back Arc Thrust di bagian utara. Sebagian besar hiposenter berada pada Lempeng Eurasia, sedangkan sebagian lainnya berada pada Lempeng Indo-Australia.<\/p><p>Temuan tersebut memperlihatkan bahwa peta gempa Nusa Tenggara bukanlah kumpulan titik yang tersebar secara acak. Ada pola. Ada jalur. Dan ada struktur geologi yang ikut menjelaskan mengapa gempa dapat berulang di kawasan tersebut.<\/p><h2><strong>Dari Magnitudo ke Guncangan Tanah<\/strong><\/h2><p>Dari karakteristik magnitudonya, penelitian menemukan bahwa gempa dengan magnitudo 5,0\u20135,5 SR dan 5,5\u20136,0 SR merupakan kelompok yang dominan. Sementara itu, gempa dengan magnitudo lebih besar dari 6 SR memiliki frekuensi yang lebih kecil.<\/p><p>Temuan ini penting untuk dipahami secara proporsional. Gempa dengan magnitudo yang relatif lebih kecil bukan berarti otomatis tidak berbahaya. Dampak gempa ditentukan oleh banyak faktor, termasuk kedalaman dan lokasi sumber gempa, jarak terhadap permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan. Sebaliknya, gempa besar tidak selalu berarti semua wilayah akan mengalami tingkat guncangan yang sama.<\/p><p>Di sinilah konsep PGA menjadi penting. <em>Peak Ground Acceleration<\/em> (PGA) atau percepatan tanah maksimum merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menggambarkan tingkat guncangan tanah akibat gempa. Sederhananya, jika magnitudo memberi tahu kita tentang seberapa besar energi yang dilepaskan oleh gempa, maka PGA membantu memberikan gambaran tentang seberapa kuat percepatan tanah yang mungkin terjadi di suatu lokasi.<\/p><p>Dalam penelitian ini, nilai PGA dihitung menggunakan fungsi atenuasi Zhao et al.\u00a0(2006). Data tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan pemetaan tingkat bahaya gempa di NTB dan NTT. Untuk NTB, penelitian menemukan beberapa wilayah dengan nilai PGA maksimum pada kisaran sekitar 180,98 hingga 340,44 gal. Kelompok lainnya berada pada kisaran sekitar 92,52 hingga 180,98 gal, sementara kelompok dengan nilai lebih rendah berada pada kisaran sekitar 42,06 hingga 92,52 gal.<\/p><p>Di NTT, pola yang tidak jauh berbeda juga terlihat. Beberapa wilayah memiliki nilai PGA maksimum sekitar 180,76 hingga 340,18 gal, sementara kelompok lainnya berada pada kisaran sekitar 92,35 hingga 180,76 gal dan 45,93 hingga sekitar 92,35 gal.<\/p><p>Angka-angka tersebut mungkin terlihat teknis. Namun, ketika divisualisasikan dalam bentuk peta, angka tersebut menjadi jauh lebih bermakna. Kita dapat melihat wilayah mana yang memiliki potensi guncangan lebih tinggi dan bagaimana pola bahaya tersebut tersebar.<\/p><h2><strong>Apa Itu Fungsi Atenuasi Zhao?<\/strong><\/h2><p>Bagi pembaca yang tidak akrab dengan seismologi, istilah fungsi atenuasi Zhao mungkin terdengar rumit. Secara sederhana, fungsi atenuasi digunakan untuk memperkirakan bagaimana intensitas atau energi guncangan gempa berkurang seiring bertambahnya jarak dari sumber gempa.<\/p><p>Bayangkan sebuah batu dilemparkan ke permukaan air. Gelombang yang muncul paling kuat di sekitar titik jatuhnya batu. Semakin jauh dari titik tersebut, gelombang semakin melemah. Prinsip sederhananya mirip, meskipun gelombang gempa jauh lebih kompleks. Dalam penelitian ini, fungsi atenuasi Zhao et al.\u00a0(2006) digunakan untuk memperkirakan PGA berdasarkan karakteristik gempa dan kondisi wilayah. Hasil perhitungan kemudian diolah menjadi peta menggunakan perangkat lunak QGIS.<\/p><p>Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya bertanya \u201cdi mana gempa pernah terjadi?\u201d, tetapi juga mencoba menjawab \u201cseberapa besar guncangan yang berpotensi ditimbulkan di suatu wilayah?\u201d<\/p><h2><strong>Hasil Utama: Bahaya Gempa Berada pada Intensitas V\u2013VIII MMI<\/strong><\/h2><p>Salah satu hasil paling penting penelitian adalah pemetaan tingkat bahaya gempa berdasarkan Modified Mercalli Intensity (MMI). Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat bahaya gempa di wilayah NTB dan NTT berada pada kisaran V hingga VIII MMI, dengan sebagian besar wilayah yang dianalisis berada pada VII\u2013VIII MMI.<\/p><p>Bagi masyarakat awam, angka tersebut mungkin belum banyak berbicara. MMI merupakan skala yang menggambarkan intensitas guncangan berdasarkan dampak yang dirasakan dan kerusakan yang terjadi di suatu tempat. Karena itu, intensitas dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya meskipun berasal dari gempa yang sama. Jika suatu kawasan berada pada tingkat intensitas yang lebih tinggi, konsekuensi terhadap bangunan dan aktivitas masyarakat juga menjadi semakin serius. Dengan demikian, temuan VII\u2013VIII MMI menjadi pesan penting bagi Nusa Tenggara: potensi guncangan kuat perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan dan kesiapsiagaan masyarakat.<\/p><p>Penelitian ini juga membandingkan hasil pemodelan dengan data intensitas yang diperoleh dari kejadian gempa di lapangan. Data verifikasi menunjukkan bahwa gempa merusak di wilayah NTB dan NTT dapat menghasilkan intensitas sekitar IV\u2013VIII MMI. Pola antara hasil pemodelan dan data lapangan secara umum memiliki kemiripan, meskipun tidak sepenuhnya sama. Perbedaan tersebut wajar terjadi karena kondisi nyata di lapangan sangat kompleks. Data lapangan tidak selalu menangkap intensitas maksimum di seluruh wilayah terdampak. Selain itu, kejadian gempa baru dapat menghasilkan nilai PGA dan pola intensitas yang berbeda sehingga peta bahaya juga dapat mengalami perubahan. Artinya, peta bahaya gempa bukan dokumen yang berhenti pada satu angka untuk selamanya.Peta tersebut perlu terus diperbarui seiring bertambahnya data gempa dan berkembangnya metode analisis.<\/p><p>Gambar 1. Peta Intensitas gempa bumi tektonik signifikan merusak hasil verifikasi<\/p><p>fakta lapangan di Nusa Tenggara Timur<\/p><h2><strong>Mengapa Penelitian Ini Penting bagi kita?<\/strong><\/h2><p>Bagi mahasiswa dan civitas akademika, penelitian seperti ini memberikan gambaran bahwa ilmu kebumian tidak berhenti pada teori di ruang kelas. Data gempa, misalnya, dapat diolah menjadi informasi spasial. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk memahami risiko dan mendukung perencanaan wilayah. Di sinilah ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan masyarakat.<\/p><p>Mahasiswa bidang sains dan teknologi dapat melihat bahwa persoalan kebencanaan membutuhkan kolaborasi berbagai bidang: geofisika untuk memahami sumber gempa, matematika dan statistika untuk mengolah data, Teknologi Informasi untuk pemetaan, teknik sipil dan arsitektur untuk memahami ketahanan bangunan, hingga ilmu lingkungan dan perencanaan wilayah untuk mengurangi risiko. Gempa bumi memang tidak dapat dihentikan. Namun, risikonya dapat dikurangi.<\/p><p>Selain itu hal yang perlu ditekankan dari penelitian ini adalah bahwa kajian bahaya gempa bukan upaya untuk memprediksi tanggal dan jam terjadinya gempa. Penelitian lebih diarahkan pada pemahaman terhadap pola dan tingkat bahaya. Dengan mengetahui wilayah yang memiliki aktivitas gempa tinggi dan memperkirakan tingkat guncangan yang mungkin terjadi, berbagai pihak dapat memiliki dasar yang lebih baik untuk meningkatkan kesiapsiagaan.<\/p><p>Informasi tersebut dapat mendukung evaluasi tata ruang, perencanaan infrastruktur, penyusunan kebijakan mitigasi, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat.<\/p><p>Dengan demikian, penelitian seismologi pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang batuan, lempeng, atau persamaan matematika.<\/p><p>Ia berbicara tentang keselamatan manusia. Penelitian Irjan dan Ahmad Luthfin memiliki batasan. Kajian yang dilakukan berfokus pada data gempa dangkal. Karena itu, penelitian berikutnya masih dapat dikembangkan dengan memasukkan pengaruh gempa berkedalaman menengah di wilayah NTB dan NTT. Pengembangan tersebut penting karena karakteristik sumber gempa yang berbeda dapat memberikan pengaruh berbeda terhadap pola guncangan. Semakin lengkap data yang digunakan, semakin kaya pula informasi yang dapat diperoleh. Di era ketika data seismik terus bertambah, pemodelan bahaya juga memiliki peluang untuk menjadi semakin detail.<\/p><h2><strong>Dari Data Gempa Menjadi Kesadaran<\/strong><\/h2><p>Gempa yang terjadi di NTT beberapa waktu terakhir kembali memperlihatkan bahwa aktivitas tektonik merupakan bagian dari kehidupan di Nusa Tenggara. BMKG bahkan masih mencatat aktivitas gempa di kawasan Flores dalam beberapa hari terakhir, termasuk gempa yang dirasakan masyarakat Manggarai. Tetapi ada satu hal yang perlu diingat: gempa bukan sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan risiko yang perlu dipahami. Penelitian tentang tingkat bahaya gempa memberikan salah satu cara untuk memahami risiko tersebut. Melalui data gempa, pola persebaran episenter, perhitungan PGA, fungsi atenuasi Zhao, dan pemetaan intensitas MMI, kita dapat melihat bahwa ancaman gempa di NTB dan NTT memiliki pola yang dapat dikaji secara ilmiah.<\/p><p>Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar wilayah yang dianalisis berada pada tingkat VII\u2013VIII MMI. Temuan ini seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam laporan penelitian. Ia perlu diterjemahkan menjadi kesadaran. Menjadi bangunan yang lebih aman. Menjadi tata ruang yang lebih memperhatikan risiko. Menjadi masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan ketika tanah mulai berguncang. Dan menjadi generasi yang tidak hanya mampu membaca data, tetapi juga mampu mengubah data tersebut menjadi solusi. Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat mengetahui secara pasti kapan gempa berikutnya akan datang. Namun, kita dapat memilih untuk menjadi lebih siap ketika gempa itu terjadi. <strong>(Humas-FST)<\/strong><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca ancaman gempa NTB\u2013NTT melalui data, Peak Ground Acceleration, dan Fungsi Atenuasi Zhao Gempa bumi di \u00a0Nusa Tenggara Timur mengingatkan kita bahwa aktivitas tektonik bukan sekadar cerita dalam buku. Pada 8 September 2026, BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 di wilayah sekitar 60 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":14786,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-14785","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14785","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14785"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14785\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14794,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14785\/revisions\/14794"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14785"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14785"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14785"}],"curies":[{"name":"\u062f\u0628\u0644\u064a\u0648 \u0628\u064a","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}