{"id":13367,"date":"2026-05-18T09:40:20","date_gmt":"2026-05-18T02:40:20","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=13367"},"modified":"2026-10-13T16:02:50","modified_gmt":"2026-10-13T09:02:50","slug":"renungan-jumat-17","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/renungan-jumat-17\/","title":{"rendered":"Renungan Jum&#8217;at"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"13367\" class=\"elementor elementor-13367\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-6c3f5de e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"6c3f5de\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2d160ec elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"2d160ec\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p style=\"text-align: center;\"><em>Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)<\/em><\/p><p>\u00a0<\/p><p>Bisikan Kemiskinan<\/p><p>Pak Kyai membuka pengajian bakda magrib itu dengan pertanyaan yang sederhana, tapi seperti biasa\u2026 tidak pernah benar-benar sederhana.<br \/>\u201cCoba jujur\u2026 siapa di antara kalian yang takut miskin?\u201d<br \/>Beberapa santri saling pandang. Ada yang tersenyum tipis. Ada yang langsung menunduk. Pertanyaan itu seperti cermin.. memantulkan sesuatu yang sering kita sembunyikan, bahkan dari diri sendiri.<br \/>Pak Kyai lalu membaca ayat dari surat Al Baqoroh 268<br \/>\u201cSyaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia\u2026\u201d<\/p><p>Beliau tidak langsung menjelaskan. Hanya diam sejenak.<br \/>\u201cPerhatikan baik-baik\u2026 yang menakut-nakuti itu siapa, dan yang menjanjikan itu siapa.\u201d<\/p><p>Menurut Pak Kyai, hidup manusia seringkali bukan dikendalikan oleh kenyataan, tapi oleh rasa takut.<br \/>Dan salah satu rasa takut yang paling halus\u2026 tapi paling kuat\u2026 adalah takut miskin.<br \/>Bukan hanya takut tidak punya uang. Tapi takut tidak cukup. Takut tertinggal. Takut tidak dianggap.<br \/>\u201cDan menariknya,\u201d kata beliau, \u201crasa ini bisa dimiliki siapa saja. Yang tidak punya, takut miskin. Yang sudah punya pun\u2026 juga takut miskin.\u201d<\/p><p>Beliau lalu memberi contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.<br \/>Seorang karyawan, misalnya.<br \/>Gajinya sebenarnya cukup. Bisa makan, bisa bayar cicilan, bisa menabung sedikit. Hidupnya tidak mewah, tapi juga tidak kekurangan.<br \/>Tapi suatu hari ia melihat teman sekantornya naik mobil baru.<br \/>Besoknya, ia melihat yang lain liburan ke luar negeri.<br \/>Lalu tanpa sadar muncul satu bisikan kecil:<br \/>\u201cAku ketinggalan\u2026\u201d<br \/>Dari situ, rasa cukup mulai retak.<br \/>Ia mulai berpikir, \u201cGajiku segini-segini saja. Kapan bisa seperti mereka?\u201d<br \/>Lalu datang tawaran kecil. Tidak besar. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan sesuatu yang sepenuhnya bersih.<br \/>Awalnya ragu.<br \/>Tapi karena ada rasa takut: \u201cKalau tidak ambil kesempatan ini, kapan lagi?\u201d\u2026 akhirnya diambil juga.<\/p><p>Menurut Pak Kyai, banyak keputusan besar dalam hidup manusia, sering dimulai dari bisikan kecil seperti itu.<\/p><p>Contoh lain, di dunia usaha.<br \/>Ada pedagang yang awalnya jujur. Ia bangun usahanya dari nol. Pelan-pelan. Sabar.<br \/>Pelanggan percaya karena kejujurannya.<br \/>Tapi suatu saat, ia melihat pesaingnya berkembang lebih cepat. Lebih ramai. Lebih besar.<br \/>Lalu muncul rasa khawatir:<br \/>\u201cKalau aku tetap seperti ini\u2026 nanti kalah.\u201d<br \/>Dari situ mulai ada perubahan kecil.<br \/>Mengurangi kualitas sedikit.<br \/>Menambah harga diam-diam.<br \/>Atau memainkan cerita agar barangnya terlihat lebih bagus dari aslinya.<br \/>Tidak langsung besar. Tapi pelan-pelan.<\/p><p>Menurut Pak Kyai, syaitan tidak selalu menyuruh langsung korupsi besar. Kadang cukup menggeser sedikit saja\u2026 tapi terus-menerus.<\/p><p>Beliau juga menyinggung fenomena yang sering terjadi di sekitar kita.<br \/>Karena takut miskin\u2026<br \/>Orang rela menyuap agar dapat pekerjaan.<br \/>Rela menyogok agar naik jabatan.<br \/>Rela menjilat demi posisi.<br \/>Rela mengorbankan prinsip demi \u201ckeamanan masa depan\u201d.<\/p><p>Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil\u2026<br \/>Ada yang takut tidak cukup, akhirnya jadi pelit berlebihan.<br \/>Takut berbagi. Takut memberi.<br \/>Padahal yang ditahan belum tentu membawa tenang.<\/p><p>Pak Kyai kemudian tersenyum, lalu berkata pelan:<br \/>\u201c yang berbahaya itu bukan miskinnya. Tapi takutnya.\u201d<br \/>Karena miskin itu kondisi. Bisa datang, bisa pergi.<br \/>Tapi takut miskin\u2026 itu penyakit hati. Kalau sudah masuk, bisa merusak cara berpikir, cara merasa, bahkan cara mengambil keputusan.<\/p><p>Beliau lalu mengingatkan doa Nabi: \u201cYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, dari kekurangan, dan dari kehinaan\u2026\u201d<br \/>Menurut Pak Kyai, \u201ckefakiran di sini bukan hanya tidak punya. Tapi kondisi hati yang selalu merasa kurang, selalu takut tidak cukup.\u201d<br \/>Dan ketika hati seperti itu\u2026<br \/>Orang tidak lagi bertanya: \u201cIni benar atau tidak?\u201d<br \/>Tapi berubah menjadi: \u201cIni aman atau tidak?\u201d<br \/>Bukan lagi soal halal atau haram,<br \/>Tapi soal untung atau rugi.<\/p><p>Pak Kyai kemudian mengajak santri melihat lebih dalam.<br \/>\u201cKenapa syaitan menakut-nakuti dengan kemiskinan?\u201d<br \/>Karena, kata beliau, rasa takut itu membuat manusia mudah dikendalikan.<\/p><p>Kalau seseorang sudah takut miskin, ia akan mudah diarahkan:<br \/>Untuk serakah, Untuk curang, <br \/>Untuk menghalalkan cara.<br \/>Dan yang lebih halus lagi, <br \/>Ia akan kehilangan rasa percaya kepada Allah.<br \/>Padahal dalam ayat itu jelas:<br \/>Yang satu menakut-nakuti.<br \/>Yang satu menjanjikan.<br \/>\u201cPertanyaannya,\u201d kata Pak Kyai, \u201ckita lebih sering mendengarkan yang mana?\u201d<\/p><p>suasana mulai hening..<br \/>Pak Kyai menutup dengan pesan yang sederhana, tapi dalam.<br \/>\u201cJadilah orang yang berusaha. Bekerja keras. Bahkan kalau bisa, jadilah orang kaya.\u201d<br \/>Beberapa santri tersenyum.<br \/>\u201cTapi\u2026\u201d beliau melanjutkan, \u201cjangan pernah memelihara rasa takut miskin.\u201d <br \/>Karena kalau hati sudah tidak takut miskin\u2026Orang akan lebih berani jujur. Lebih mudah bersyukur.<br \/>Lebih ringan berbagi.<br \/>Dan lebih tenang menjalani hidup.<\/p><p>Kadang kita merasa hidup ini berat karena penghasilan kurang.<br \/>Padahal kalau ditelusuri lebih dalam\u2026<br \/>Yang membuat sesak bukan angka yang sedikit, tapi rasa takut yang berlebihan.<br \/>Takut tidak cukup.<br \/>Takut kalah.<br \/>Takut masa depan gelap.<br \/>Padahal bisa jadi\u2026<br \/>Yang perlu kita perbaiki bukan hanya usaha kita,<br \/>tapi juga keyakinan kita.<br \/>Bahwa rezeki bukan semata hasil hitungan manusia.<br \/>Dan bahwa ketenangan\u2026 tidak selalu datang dari banyaknya yang kita miliki,<br \/>tapi dari sedikitnya yang kita khawatirkan.<\/p><p>Pak Kyai menutup pengajian dengan satu kalimat yang pelan, <br \/>\u201cKalau kamu ingin hidup tenang\u2026 jangan hanya memperbesar penghasilan. Tapi kecilkan rasa takut kehilangan.\u201d<br \/>Dan mungkin, di situlah awal dari keberkahan.<\/p><p>Wallahu a&#8217;lam<br \/>\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi) \u00a0 Bisikan Kemiskinan Pak Kyai membuka pengajian bakda magrib itu dengan pertanyaan yang sederhana, tapi seperti biasa\u2026 tidak pernah benar-benar sederhana.\u201cCoba jujur\u2026 siapa di antara kalian yang takut miskin?\u201dBeberapa santri saling pandang. Ada yang tersenyum tipis. Ada yang langsung menunduk. Pertanyaan itu seperti cermin.. memantulkan sesuatu yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-13367","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13367","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13367"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13367\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15348,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13367\/revisions\/15348"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13367"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13367"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13367"}],"curies":[{"name":"\u062f\u0628\u0644\u064a\u0648 \u0628\u064a","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}