{"id":12908,"date":"2026-04-22T10:24:03","date_gmt":"2026-04-22T03:24:03","guid":{"rendered":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/?p=12908"},"modified":"2026-10-13T16:06:39","modified_gmt":"2026-10-13T09:06:39","slug":"renungan-hari-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/renungan-hari-bumi\/","title":{"rendered":"Renungan \u2013 Hari Bumi"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"12908\" class=\"elementor elementor-12908\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7d08bc96 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"7d08bc96\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7235e030 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"7235e030\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)<\/em><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memaknai Hari Bumi<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dulu\u2026 di kampung\u2026 kita mengenal bumi bukan sebagai objek\u2026 tapi sebagai ibu\u2026 yang dipijak dengan hati-hati\u2026 yang disentuh dengan rasa\u2026<br \/>yang dipahami bukan lewat rumus\u2026 tapi lewat adab.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pagi hari\u2026 orang tua kita menyapu halaman bukan sekadar membersihkan\u2026 tapi seperti sedang merawat hubungan\u2026<br \/>antara manusia, tanah, dan kehidupan.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi hari ini\u2026 kita seperti kehilangan rasa itu.<br \/>Banyak fenomena alam yang menandakan bahwa bumi telah menurun kualitasnya.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita melihat tanah pertanian yang dulu subur.. kini mulai lelah.<br \/>Hutan yang dulu rindang\u2026 kini tinggal cerita.<br \/>Air yang dulu jernih\u2026 kini harus dibeli dengan harga yang tidak murah.<br \/>Udara yang dulu menyehatkan\u2026 kini seringkali kita hirup dengan rasa khawatir.<br \/>Dan yang paling menyedihkan\u2026<br \/>kita seperti menganggap ini semua hal yang biasa.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal\u2026 ini bukan sekadar perubahan\u2026 ini adalah tanda.<br \/>Tanda bahwa ada yang tidak lagi selaras.<br \/>Kenapa ini terjadi\u2026?<br \/>Jawabannya sebenarnya sederhana\u2026 meskipun kita sering menghindarinya.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manusia telah membabati hutan, menggunduli pepohonan,<br \/>mengeruk bumi tanpa jeda,<br \/>menggunakan pupuk kimia tanpa kendali, mendirikan bangunan di tanah yang seharusnya menjadi resapan, membuang limbah, menyebarkan asap,<br \/>dan memperlakukan alam seolah-olah tidak punya batas kesabaran.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut pak kyai,<br \/>kerusakan itu bukan datang tiba-tiba, ia adalah akumulasi dari kesombongan manusia\u2026<br \/>yang merasa bisa menguasai alam\u2026 tanpa harus tunduk pada aturan-Nya.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur\u2019an:<br \/>\u201cTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia\u2026\u201d<br \/>(QS. Ar-Ruum: 41)<br \/>Ayat ini bukan sekadar peringatan\u2026 tapi seperti cermin\u2026<br \/>yang menunjukkan wajah kita sendiri. Dan seringkali\u2026 kita tidak berani melihatnya terlalu lama.<br \/>Kita terlalu sering berjalan berlawanan arah dengan hukum alam.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ilmu yang kita banggakan\u2026 kadang justru menjauhkan kita dari kebijaksanaan. Teknologi yang kita kembangkan\u2026 tidak selalu membawa keberkahan.<br \/>Kita menyebutnya modern\u2026<br \/>kita menyebutnya canggih\u2026<br \/>kita menyebutnya efisien\u2026<br \/>tapi diam-diam\u2026<br \/>kita sedang menciptakan kerusakan yang lebih sistematis.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut pak kyai,<br \/>ilmu itu seharusnya mendekatkan manusia pada keseimbangan\u2026<br \/>bukan justru mempercepat kehancuran. Karena ilmu tanpa adab\u2026 akan melahirkan keserakahan yang terorganisir.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari Bumi,<br \/>seharusnya bukan sekadar seremoni, bukan sekadar peringatan tahunan, bukan hanya menanam satu dua pohon\u2026 lalu selesai.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari Bumi adalah momentum untuk kembali bertanya,<br \/>apakah cara hidup kita masih selaras dengan bumi,atau justru menjadi bagian dari kerusakan itu sendiri?<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allah juga berfirman:<br \/>\u201cDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri\u2026\u201d<br \/>(QS. Asy-Syura: 30)<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayat ini tidak sedang menyalahkan\u2026 tapi sedang mengajak kita untuk jujur. Bahwa mungkin\u2026 yang perlu diperbaiki bukan hanya sistem di luar sana\u2026<br \/>tapi juga cara kita memandang kehidupan.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut pak kyai\u2026<br \/>taubat itu bukan hanya soal ibadah pribadi\u2026 tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan alam. Karena merusak bumi\u2026<br \/>pada hakikatnya adalah bentuk kelalaian terhadap amanah.<br \/>Allah telah menciptakan manusia dari tanah\u2026 dan menjadikannya sebagai pemakmur bumi.<br \/>(QS. Huud: 61)<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini bukan sekadar status\u2026<br \/>ini adalah tanggung jawab.<br \/>Ada dua peran utama kita pertama\u2026 memakmurkan bumi.<br \/>kedua\u2026 menjaga bumi dari kerusakan.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memakmurkan\u2026 bukan berarti mengeksploitasi tanpa batas.<br \/>Menjaga\u2026 bukan berarti hanya diam tanpa tindakan. Keseimbangan di antara keduanya\u2026 itulah yang sering kita lupakan.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dulu\u2026 kita mengambil secukupnya\u2026<br \/>hari ini\u2026 kita mengambil sebanyak-banyaknya.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dulu\u2026 kita berpikir untuk generasi berikutnya\u2026<br \/>hari ini\u2026 kita lebih sibuk menghabiskan untuk diri sendiri.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal bumi ini bukan warisan dari nenek moyang\u2026<br \/>tapi titipan untuk anak cucu.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut pak kyai\u2026<br \/>orang yang bijak bukan yang paling banyak mengambil\u2026<br \/>tapi yang paling mampu menjaga.<br \/>Kita tetap boleh memanfaatkan kekayaan bumi\u2026<br \/>kita boleh membangun\u2026 mengembangkan\u2026 menciptakan\u2026<br \/>tapi dengan satu syarat\u2026<br \/>jangan sampai merusak keseimbangan.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena ketika keseimbangan itu hilang\u2026 yang rusak bukan hanya alam\u2026 tapi juga kehidupan manusia itu sendiri.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari Bumi seharusnya menjadi momen untuk kembali menyadari\u2026<br \/>bahwa kita ini bukan penguasa\u2026<br \/>kita hanya penjaga.<br \/>Penjaga yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.<br \/>Dan mungkin\u2026 pertanyaan itu sederhana\u2026 tapi berat:<br \/>apa yang sudah kita lakukan untuk bumi ini?<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan seberapa banyak yang kita ambil\u2026 tapi seberapa banyak yang kita jaga.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena\u2026 bumi tidak butuh kita untuk bertahan\u2026<br \/>kitalah yang butuh bumi\u2026 untuk tetap hidup.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wallahu a\u2019lam<br \/>\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f\ud83d\ude4f<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agus Mulyono (Dekan Fakultas Sains dan Teknologi) \u00a0 Memaknai Hari Bumi Dulu\u2026 di kampung\u2026 kita mengenal bumi bukan sebagai objek\u2026 tapi sebagai ibu\u2026 yang dipijak dengan hati-hati\u2026 yang disentuh dengan rasa\u2026yang dipahami bukan lewat rumus\u2026 tapi lewat adab. Pagi hari\u2026 orang tua kita menyapu halaman bukan sekadar membersihkan\u2026 tapi seperti sedang merawat hubungan\u2026antara manusia, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71],"tags":[],"class_list":["post-12908","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12908"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12908\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15396,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12908\/revisions\/15396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/saintek.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12908"}],"curies":[{"name":"\u062f\u0628\u0644\u064a\u0648 \u0628\u064a","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}