تسجيل الدخول إلى MIU

Renungan Jum’at

Oleh: Agus Mulyono


Gaya Hidup: Ketika Kita Membeli Pengakuan

Ada sebuah cerita sederhana tentang seorang pegawai biasa. Gajinya tidak terlalu besar, hanya seorang pegawai golongan dua. Penghasilan tambahannya juga tidak ada. Rumahnya dengan tempat kerja sebenarnya cukup dekat, kurang lebih tiga kilometer. Kalau menggunakan sepeda motor, apalagi sepeda, sebenarnya tidak ada masalah. Bahkan mungkin lebih sehat dan lebih hemat. Tetapi setiap hari ia tetap berangkat menggunakan mobil tua 1.500 cc miliknya.

Suatu ketika ada temannya yang bertanya, “Kenapa harus pakai mobil? Kantornya kan dekat. Kalau naik motor lebih praktis dan hemat.”
Ia menjawab santai, “Biar teman-teman tahu kalau saya punya mobil. Memangnya pegawai biasa tidak boleh punya mobil?”

Jawaban itu sebenarnya sederhana, tetapi kalau kita renungkan agak lama, ada sesuatu yang menarik di dalamnya. Mobil yang seharusnya menjadi alat untuk memudahkan perjalanan, berubah menjadi alat untuk menunjukkan keberadaan. Yang semula hanya benda, berubah menjadi simbol. Yang semula digunakan untuk pergi dari rumah ke kantor, berubah menjadi cara untuk mengatakan kepada orang lain, “Saya ini ada. Saya juga punya sesuatu.”

Barangkali di situlah persoalannya. Kita hidup di zaman ketika banyak orang merasa dirinya berharga bukan karena apa yang ia lakukan, tetapi karena apa yang ia miliki dan apa yang bisa ia tampilkan.

Anak sekolah tidak lagi sekadar ingin mempunyai telepon genggam karena membutuhkan alat komunikasi. Ia ingin HP tertentu karena teman-temannya memakai HP tertentu. Anak muda tidak sekadar ingin sepeda motor karena perlu kendaraan, tetapi karena motor tertentu dianggap lebih keren. Orang dewasa membeli pakaian bukan hanya karena membutuhkan pakaian, tetapi karena mereknya perlu terlihat. Bahkan makanan pun kadang bukan lagi soal lapar, tetapi soal tempat makannya bisa difoto dan diunggah.

Kita kemudian memasuki zaman yang agak lucu. Dulu orang membeli sesuatu karena membutuhkan. Sekarang kadang kita membeli sesuatu supaya orang lain tahu bahwa kita mampu membeli.

Seorang anak dari keluarga buruh, misalnya, bisa saja memaksa orang tuanya membeli telepon genggam karena merasa malu melihat teman-temannya membawa HP Android. Harganya mungkin tidak terlalu mahal, tetapi bagi orang tuanya, uang itu bukan uang kecil. Terpaksa berutang demi memenuhi keinginan anak.

Ada pula anak yang meminta sepeda motor, padahal sekolahnya hanya berjarak dua setengah kilometer. Karena terus didesak, akhirnya orang tua menjual sebagian tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Yang menarik, barangnya tetap ada. Motornya ada. HP-nya ada. Tetapi tanahnya sudah tidak ada.

Di sinilah kita perlu bertanya: sebenarnya siapa yang sedang kita bahagiakan? Anak, orang tua, tetangga, teman, atau jangan-jangan hanya pandangan orang lain?

Hari ini kita memang hidup dalam masyarakat yang sangat visual. Media sosial membuat kehidupan orang lain masuk ke dalam ruang pribadi kita setiap hari. Kita melihat orang liburan, makan di restoran, membeli kendaraan baru, mengganti telepon genggam, merenovasi rumah, mengenakan pakaian bagus, duduk di kafe, menghadiri acara mewah, dan sebagainya. Kita melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak indah, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan kita yang lengkap dengan cicilan, tagihan, pekerjaan, anak sekolah, dan kebutuhan sehari-hari.

Masalahnya, media sosial hanya memperlihatkan panggung. Ia jarang memperlihatkan gudang di belakang panggung.
Kita melihat mobil barunya, tetapi tidak melihat cicilannya. Kita melihat liburannya, tetapi tidak melihat utangnya. Kita melihat rumahnya yang bagus, tetapi tidak tahu berapa tahun ia harus bekerja untuk membayarnya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak tahu apakah setelah foto selesai ia masih pusing memikirkan tagihan.

Maka jangan sampai kehidupan kita menjadi perlombaan untuk terlihat berhasil.
Sekarang bahkan tersedia berbagai fasilitas yang membuat keinginan menjadi sangat mudah diwujudkan. Tinggal klik, barang datang. Tidak punya uang tunai, ada cicilan. Belum punya uang bulan ini, ada paylater. Keinginan yang dulu harus menunggu berbulan-bulan, sekarang bisa diwujudkan dalam hitungan menit.

Jadi perlu kita waspadai adalah ketika kemudahan membeli membuat kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kita akhirnya bukan membeli barang karena membutuhkannya, tetapi membeli karena takut dianggap tidak memilikinya.

Inilah yang kemudian melahirkan gaya hidup konsumtif. Penghasilan boleh sederhana, tetapi keinginan mengikuti standar orang kaya. Gaji pas-pasan, tetapi ingin rumah seperti di Instagram. Penghasilan biasa, tetapi ingin kendaraan baru. Belum selesai cicilan yang satu, sudah tertarik dengan barang yang lain.

Lucunya, barang-barang itu terus berganti. HP baru muncul, kita merasa HP lama tiba-tiba menjadi kuno. Mobil baru keluar, mobil lama terasa tidak berharga. Mode pakaian berubah, pakaian yang sebenarnya masih bagus mendadak dianggap tidak layak dipakai.
Padahal secara fungsi, sering kali perbedaannya tidak terlalu jauh.

Kamera semakin canggih, tetapi yang difoto tetap wajah kita. Mobil semakin mewah, tetapi jalan yang dilewati tetap jalan yang sama. Sepatu semakin mahal, tetapi kaki yang memakainya tetap dua. Rumah semakin besar, tetapi tubuh kita ketika tidur tetap hanya membutuhkan tempat beberapa meter persegi.

Tetapi begitulah manusia. Kadang yang dikejar bukan fungsi, melainkan simbol.
Kita ingin terlihat berhasil. Kita ingin terlihat mapan. Kita ingin terlihat modern. Kita takut terlihat miskin.
Padahal miskin dan sederhana adalah dua hal yang berbeda. Orang miskin bisa saja tidak punya pilihan, sementara orang sederhana justru memilih untuk tidak berlebihan meskipun punya kemampuan.

Kesederhanaan bukan berarti tidak boleh mempunyai sesuatu yang bagus. Bukan pula berarti kita harus anti-kemajuan. Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk membenci harta. Yang menjadi persoalan adalah ketika harta berpindah dari tangan ke hati. Ketika benda yang seharusnya kita miliki justru mulai memiliki kita.

Menurut Pak Kyai, jangan sampai barang-barang itu yang menentukan harga dirimu.”
Sebab kalau harga diri kita ditentukan oleh barang, maka kita akan selalu kelelahan. Hari ini kita merasa cukup karena membeli HP baru. Besok muncul model terbaru, kita merasa kurang lagi. Hari ini merasa keren karena membeli mobil baru. Beberapa bulan kemudian keluar model baru, kita merasa ketinggalan lagi. Begitu seterusnya.

Kebahagiaan akhirnya menjadi target yang selalu bergerak menjauh. Kita mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak berlebih-lebihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pesan itu sebenarnya sangat sederhana: gunakan sesuatu sesuai kebutuhan, nikmati rezeki tanpa harus mempertontonkannya, dan jangan menjadikan kepemilikan sebagai ukuran kemuliaan.

Mungkin kita perlu mendefinisikan yg tepat tentang apa yang disebut sukses. Sukses tidak harus selalu berarti mempunyai lebih banyak. Kadang sukses justru berarti mampu mengatakan “cukup” ketika sebenarnya kita mampu membeli lebih banyak.

Sukses bukan hanya ketika pendapatan meningkat, tetapi ketika pengeluaran bisa dikendalikan. Bukan hanya ketika rumah semakin besar, tetapi ketika rumah semakin nyaman untuk keluarga. Bukan hanya ketika jabatan semakin tinggi, tetapi ketika semakin banyak orang yang merasa terbantu karena keberadaan kita.

Dan bahagia tidak selalu berarti memiliki semuanya. Kadang bahagia adalah ketika kebutuhan kita tidak terlalu banyak sehingga kita masih mempunyai waktu untuk keluarga, kesempatan untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan tenaga untuk membantu orang lain.
Barangkali inilah keindahan hidup sederhana yang sering kita lupakan.

Hidup sederhana bukan hidup yang kekurangan. Hidup sederhana adalah hidup yang tahu batas. Tahu kapan membeli dan kapan menahan diri. Tahu kapan mengejar sesuatu dan kapan mengatakan, “sepertinya saya tidak membutuhkan itu.”

Menurut Pak Kyai, kesederhanaan itu bukan tanda bahwa kita kalah dalam kehidupan. Justru kesederhanaan bisa menjadi bentuk kemerdekaan. Kita tidak mudah dikendalikan iklan, tidak mudah dipengaruhi tren, tidak mudah merasa rendah diri ketika melihat keberhasilan orang lain, dan tidak perlu menghabiskan sebagian besar hidup hanya untuk membayar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kita perlukan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Apa yang harus saya miliki agar terlihat berhasil?”
Dan mulai bertanya, “Apa yang benar-benar saya perlukan agar hidup saya menjadi lebih bermakna?”

Sebab pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya benda, melainkan perjalanan untuk menjadi manusia yang semakin matang. Rumah boleh sederhana, kendaraan boleh tua, HP boleh bukan keluaran terbaru, pakaian boleh tidak bermerek. Tetapi kalau hati tenang, keluarga rukun, ilmu bertambah, pekerjaan bermanfaat, ibadah terjaga, dan keberadaan kita memberi manfaat kepada sesama, barangkali di situlah kemewahan yang sesungguhnya.

Sebab bisa jadi, orang yang paling kaya bukan orang yang paling banyak memiliki barang, tetapi orang yang paling sedikit diperbudak oleh keinginannya.
Dan mungkin, kesederhanaan bukan tentang bagaimana kita memiliki lebih sedikit.
Kesederhanaan adalah tentang bagaimana kita mampu merasa cukup, ketika dunia terus-menerus membisikkan bahwa kita masih kurang.

Wallahu a’lam
🙏🙏🙏

أخبار ذات صلة

Artikel Terkait